Kabar Ekonomi
Bappenas & DKP Dukung Pembangunan Terusan Khatulistiwa
Kamis, 4 Juni 2009 13:29 WIB
Palu, (tvOne)
Bappenas dan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mendukung usulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk membangun Terusan Khatulistiwa yang akan menghubungkan Selat Makassar dan Teluk Tomini.
"Meskipun rencana membangun terusan ini disindir beberapa pihak sebagai ide yang terlalu maju, ternyata mendapat dukungan Bappenas dan DKP," kata Hasanuddin Atjo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng di Palu, Kamis.
DKP, kata Hasanuddin, tahun 2009 ini akan membantu Sulteng dalam menyusun rencana strategis (renstra) pembangunan terusan tersebut bersamaan dengan renstra pengelolaan Teluk Tomini secara komprehensif yang akan melibatkan tiga provinsi di Sulawesi, yakni Sulawesi Utara (Sulut), Gorontalo dan Sulteng.
Bappenas telah menjanjikan mulai tahun 2010 akan membantu Sulteng melakukan studi kelayakan (feasibility study) terhadap proyek raksasa yang diperkirakan menghabiskan dana triliunan rupiah itu.
Hasanuddin menjelaskan, Terusan Khatulistiwa akan dibangun antara Desa Tambu Kabupaten Donggala ke Desa Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong, keduanya di Provinsi Sulteng.
Ada dua alternatif terusan yang paling memungkinkan, alternatif pertama jalur sepanjang 28 kilometer dan lebar 200 meter dengan ketinggian gunung 70 meter, sehingga volume material yang akan disingkirkan mencapai dua juta meter kubik.
"Alternatif kedua adalah terusan sepanjang 18,5 kilometer dan lebar 200 meter namun ketinggian gunung yang akan disingkirkan mencapai 450 meter dengan jumlah material yang akan digali mencapai tiga juta meter kubik," katanya.
Ketika ditanya dana yang dibutuhkan untuk membangun terusan tersebut, Hasanuddin mengaku belum menghitung namun dana bukan masalah besar karena material yang akan digali berupa tanah, batu dan pasir memiliki nilai ekonomis tinggi untuk diekspor yang pasti menarik bagi investor.
"Material tanah di kawasan itu juga mengandung emas dan rakyat di sana sudah mulai melakukan penambangan," katanya.
Terusan Khatulistiwa ini, katanya, memiliki fungsi strategis baik dalam bidang ekonomi maupun pertahanan dan keamanan nasional.
Di bidang ekonomi akan memperlancar perhubungan (memperpendek jarak pelayaran) antara Indonesia bagian barat dan timur sehingga akan menekan biaya ekonomi tinggi.
"Kami sudah mengkalkulasi, bila terusan ini beroperasi, maka jarak pelayaran dari Indonesia bagian timur ke barat atau sebaliknya akan diperpendek sekitar 200 mil. Bila setiap tahun ada 1.000 kapal lewat di terusan ini, maka penghematan bahan bakar yang akan diperoleh mencapai Rp1,9 triliun," katanya.
Di bidang Hankamnas, kat5anya, terusan ini akan membantu meningkatkan pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II di Selat Makassar dan Laut Sulawesi serta ALKI II di Teluk Tomini sampai Laut Banda.
Ia juga mengatakan kalau di Jawa sekarang ada jembatan Madura dan menyusul jembatan Selat Sunda ke Sumatra, maka Indonesia Timur juga butuh Terusan Katulistiwa untuk mempercepat pembangunan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
"Masih banyak lagi manfaat strategis lainnya jika terusan tersebut beroperasi, karena itu Pemerintah Provinsi Sulteng terus mendorong agar mega proyek ini bisa terealisasi dalam waktu yang tidak terlalu lama," katanya.
